Belajar dari Mualaf Jepang yang santun dan sabar

The one who smiles.png

Ada seorang Jepang yang naik haji, Omar-san namanya. Ia selalu berseru, “Subarashi! Subarashi!” yang artinya kira-kira “Luar biasa, luar biasa.” Ia terus mengucapkan hal itu saat melihat Kabah dan thawaf.

Omar-san baru tiga tahun memeluk Islam saat ia naik haji pertama kali. Betapa kagumnya ia melihat banyaknya jemaah haji dari berbagai penjuru dunia. Ia pun merasa bahwa hanya kekuatan luar biasa besarlah yang mampu mengumpulkan sekian juta manusia untuk bersama-sama beribadah di tanah suci ini. Kekagumannya inilah yang terus membuatnya mengucap, “Subarashi.”

Meskipun hanya sedikit sekali orang Jepang yang Muslim, akhlak penduduk Jepang sudah sangat Islami. Mereka amat sangat menjaga sopan santun, kebersihan, tekun, disiplin dan tertib bermasyarakat. Mereka adalah masyarakat pemalu yang benar-benar menjaga nilai diri dan martabat sebgai manusia. Persis yang diajarkan Rasulullah saw. Mereka sangat tertib antri, tak banyak mengeluh, taat, menjaga fasilitas umum, membuang sampah di tempatnya, dan sangat tulus dalam membantu sesama. Mungkin ini juga yang membuat orang Jepang yang terpapar hidayah Allah lebih mudah memeluk Islam dan langsung mengadopsi tata akhlak Islami ala Rasulullah saw, bahkan ketimbang mereka yang Islam sejak lahir tapi tak terbiasa dengan berbagai tata cara tersebut.

Saat berbincang dengan Omar-san, ia mengatakan bahwa sejak ia menjadi orang Islam ia merasa tenang dan damai. Yang menjadi tantantan adalah ritualnya. Belajar shalat, menjalankannya lima kali sehari, puasa sebulan penuh dan haji tak selalu mudah bagi orang Jepang. Apalagi perusahaan-perusahaan Jepang belum faham pentingnya ritual-ritual tersebut dan belum tentu mengizinkan karyawannya secara rutin mengerjakan hal-hal tersebut.

Masyarakat Jepang secara umum menilai Islam sangat baik. Prasangka buruk akibat pengaruh media tak terlalu banyak membentuk sikap curiga terhadap islam. Itualh sebabnya islam lebih mudah diterima.

Selain Omar-san, ada Saif Takehito, seorang diplomat Jepang yang bekerja di Kedutaan Besar Jepang di Dubai. Ia jago berbahasa Arab dan ahli membaca Al Qur’an. Banyak orang Indonesia yang Islam sejak lahirpun minder mendengar Saif-san membaca Quran.

Akhlak mereka luar biasa mengagumkan selama prosesi haji. Dalam kondisi apapun, mereka tetap diam dan sabar. Persis saat mereka menghadapi tsunami besar beberapa tahun lalu. Padahal ritual haji tidaklah mudah dan benar-benar butuh kesabaran. Banyak jemaah terpancing untuk marah dan jengkel, mengeluh tiada henti. Tapi jemaah haji Jepang selalu sabar, disiplin dalam mengikuti berbagai prosesi dan tak banyak protes.

Sempat ada kejadian di mana pengelola maktab tempat mereka berteduh memindahkan tenda tanpa sepengetahuan para jemaah. Banyak barang-barang jemaah yang tercecer dan hilang. Jemaah haji dari banyak negara marah-marah dan protes, sampai menuding-nuding panitya dan minta ganti rugi. Banyang yang adu mulut dan membuat suasana panas. Saling curiga, saling menuduh, dengan mudah terungkap saat itu.

Jemaah Jepang pun bukan tidak menjadi korban. Ada yang kehilangan sleeping bag, dan berbagai barang lainnya. Tapi mereka tak ada yang protes. Tanpa mengeluh mereka terus beribadah. Muhammad Syarief, jemaah Jepang yang kehilangan sleeping bag kakinya bengkak akibat berjalan di Mekah hari sebelumnya. Ia tak banyak berkata. Digelarnya handuk dan tidurlah ia di karpet tanpa sleeping bag. Jemaah lain pun tersentuh pada kehalusan pribadinya. Obat, makanan dan berbagai bantuan pun diulurkan pada beliau. Itulah buah ikhlas dan sabar. Orang jadi sayang padanya.

Di Arafah jemaah-jemaah haji, termasuk rombongan jemaah Jepang ini sempat tertunda, karena jalan ke Muzdalifah ditutup. Banyak yang ribut dan panik karena merasa harus ada di Muzdalifah sebelum tengah malam dan shalat dua rakaat sesuai sunnah Rasulullah saw. Tapi Saif Tekehito hanya duduk di bawah pohon sambil terus berdzikir. Ia berkata, bahwa banyak hal terjadi di luar kehendak manusia. Semua kehendak Allah, maka janganlah berbantahan. Sabar saja, karena mungkin iniilah ujian dariNya.

Malulah jemaah lain mendengar kata-kata mualaf ini. Mereka benar-benar menjadi contoh sabar yang sesungguhnya. Tak perlu menyalahkan keadaan, karena akan akan juga mengubah keadaan.

Itulah sebabnya dulu Nabi senantiasa berkata, “Biasakanlah berbuat baik, biasakanlah berbuat baik…” Bukan menghafal perbuatan baik, tapi membiasakan berbuat baik. Tentu tujuannya agar kita menjadi orang baik, yang sebaik-baiknya.

Sumber:
http://m.kompasiana.com/junantoherdiawan/orang-jepang-naik-haji.

Belajar akhlak mulia dari catatan haji jemaah Jepang 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s